Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Senin, 09 November 2009

Masjid Terbesar di Eropa Mulai Dibangun


Tidak ada yang mampu menghalangi tegaknya Islam. Masjid Cologne tetap bisa dibangun, meskipun ada orang yang tidak menyukainya.

Batu pertama pembangunan masjid terbesar di Eropa telah diletakkan pada hari Sabtu (7/11). Masjid bergaya futuristik itu, yang dibangun oleh Ditib--perkumpulan orang Turki, akan memiliki sebuah kubah besar dan 2 menara setinggi 55 meter.

"Kami tidak hanya meletakkan sebuah batu pondasi untuk sebuah masjid dan pusat komunitas," kata Ayse Aydin, jurubicara Ditb, sebagaimana dikutip lembaga penyiaran publik WDR. "Kami di sini juga meletakkan sebuah pondasi untuk masa depan kami."

Sebelumnya rencana pembangunan masjid ini mendapat tanggapan yang berbeda dari masyarakat Cologne, Jerman. Sebagian orang Jerman tidak ingin bangunan masjid nantinya akan mengalihkan perhatian orang terhadap Kathedral Gothik yang ada di kota itu.

Perdebatan itu menjadi simbol konflik antara masyarakat Muslim Eropa yang terus bertambah, dengan orang-orang yang menginginkan agar imigran Muslim yang masuk ke Eropa harus dibatasi.

Para penentang yang sinis tidak hanya datang dari Jerman, tapi juga dari belahan bumi Eropa lain, termasuk tentu saja kaum ektrimis sayap kanan. Polisi bahkan harus melarang sebuah rencana protes yang akan digelar oleh mereka, karena khawatir demonstran itu membuat huru-hara.

Untuk menghindari sentimen masyarakat yang berlebihan terhadap proyek tersebut, Ditib setuju bahwa mereka tidak akan memperdengarkan suara adzan melalui menara masjid dan membangunnya dengan ketinggian sama seperti bangunan di lingkungan sekitarnya.

Pembangunan masjid direncanakan akan selesai dalam waktu 2 tahun. Masjid tersebut akan mampu menampung jamaah sebanyak 2.000 hingga 4.000 orang, dan menggantikan tempat-tempat peribadatan sementara yang telah dibangun di lingkungan kota Cologne.

Dalam acara peletakan batu pertama, mantan Walikota Cologne Fritz Schramma menggambarkan arsitektur masjid itu sebagai "simbol awal sebuah pemekaran, yang mengundang Anda untuk mengintip ke dalamnya." [di/tlde/www.hidayatullah.com]
Read More..

Minggu, 08 November 2009

Departemen AS : Israel Bukan Masyarakat yang Toleran


Surat kabar harian Israel Haaretz, melaporkan bahwa menurut laporan terbaru dari Departemen negara AS, Israel telah gagal memenuhi semua persyaratan dari sebuah masyarakat yang pluralistik toleran.

Laporan tersebut juga menambahkan bahwa Israel tidak cukup menunjukkan sikap yang toleransi terhadap masyarakat minoritas, dan tidak menerapkan kesetaraan bagi kelompok-kelompok etnis yang lain, serta tidak memperlihatkan keterbukaan masyarakatnya dan tidak memiliki rasa hormat terhadap tempat-tempat suci dan tempat bersejarah lainnya, seperti dilaporkan Haaretz.

Laporan tersebut ditulis oleh Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Tenaga Kerja AS.

Hal ini menunjukkan bahwa Israel melakukan tindakan diskriminasi terhadap umat Islam, umat dari sekte Saksi Yehova, Kristen, perempuan, Badui, dan bahkan terhadap Yahudi yang pro Reformasi.

Laporan ini juga menyatakan bahwa meskipun Israel telah memiliki hukum di tempat itu sejak tahun 1967 tentang perlindungan bagi semua tempat suci di Yerusalem, dan masih berlaku untuk perlindungan terhadap situs-situs bersejarah Yahudi namun hal itu tidak berlaku terhadap situs suci lain yang dianggap suci oleh umat lain.

Lebih lanjut Haaretz melaporkan bahwa semua 137 situs secara resmi diakui suci oleh kaum Yahudi, namun mereka mengabaikan beberapa tempat-tempat suci umat Muslim dan Kristen, oleh karena itu, tempat-tempat suci non-Yahudi harus tunduk pada eksploitasi dari Otoritas Israel dan pengusaha real estat Israel.

Tindakan diskriminasi bahkan mencapai lebih dari 300.000 imigran yang diduga Yahudi namun tidak diakui Yahudi oleh rabi-rabi hukum yahudi Israel, karena itu mereka tidak bisa menikah atau bercerai di negera Israel, dan tidak dapat dimakamkan di pemakaman yahudi.(fq/imemc, eramuslim)
Read More..

Sabtu, 07 November 2009

Antara Jihad dan Thaharah


Saat itu Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi masih duduk sebagai mahasiswa di Fakultas Ushuluddin. Beliau diundang ke sebuah desa untuk menyampaikan ceramah Ramadhan. Kebetulan malam itu adalah malam ke-27 Ramadhan, sebuah malam yang saat menjelang paginya terjadi Perang Badar. Maka, Yusuf Qardhawi pun menyampaikan ceramah dengan tema Perang Badar.

Jamaah masjid desa itu sangat antusias karena selama ini mereka tidak mendapatkan materi-materi seperti itu. Mereka memperoleh sesuatu yang baru, yang selama ini tertutupi bagi mereka. Namun, ternyata ada satu orang yang tidak suka dengan tema ceramah itu. Dan orang itu adalah Syaikh di desa itu; imam masjid tempat Yusuf Qardhawi berceramah.

Selama ini, Syaikh tersebut menyampaikan ceramah di bulan Ramadhan dengan pembahasan thaharah saja; utamanya wudhu. Di satu hari ia membahas adab beristinja’. Di hari berikutnya fardhu wudhu. Di hari yang lain sunnah wudhu, mustahabnya, yang membatalkannya, yang harus dihindari, air yang boleh digunakan untuk bersuci, yang tidak boleh digunakan, dan sebagainya. Maka, habislah ramadhan di desa itu untuk membahas masalah-masalah demikian.

Setelah ceramah selesai, Syaikh tersebut menemui Yusuf Qardhawi dan menyampaikan keberatannya: “Ustadz! Pembicaraanmu sangat mengagumkan, tetapi akan lebih bermanfaat jika mereka pada malam ini diajarkan tentang urusan agama mereka?”

Yusuf Qardhawi balik bertanya, “Apakah sirah Rasulullah dan peperangan beliau bukanlah merupakan urusan agama mereka? Sa’ad bin Abi Waqash berkata, “Kami menceritakan anak-anak kami tentang peperangan Rasulullah sebagaimana kami mengajarkan mereka surat Al-Qur’an!”

Ia berkata, “Maksud kami, mereka belajar bagaimana tata cara wudhu dan mandi, mereka juga mengetahui beberapa syarat, kewajiban, dan sunnahnya, dan sebagainya, di mana shalat tidak akan sah tanpa mengetahui hal tersebut.”

Yusuf Qardhawi kembali bertanya, “Wahai Tuan Syaikh! Tuan hafal Al-Qur’an. Adakah Tuan dapat menjawab pertanyaan kami: dalam berapa ayat Allah menyebutkan urusan wudhu, mandi, dan lainnya seputar urusan bersuci?” Syaikh tersebut diam. Lalu Yusuf Qardhawi melanjutkan, “Sesungguhnya hanya satu ayat yang semua berkumpul di situ. Allah berfirman,
‘Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai pada siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai pada kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Ia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.’ (QS. Al-Maidah : 6)

Lalu Yusuf Qardhawi bertanya lagi, “Dan dalam berapa surat Allah menyebutkan urusan jihad dan berperang di jalan Allah?”

Syaikh tadi diam, lalu dijawab sendiri oleh Yusuf Qardhawi, “Sesungguhnya kita mempunyai kumpulan-kumpulan surat Al-Qur’an yang diwahyukan beberapa nama dan lingkup temanya –yaitu jihad- diantaranya adalah: Al-Anfal, At-Taubah, Al-Ahzab, Al-Qital, Al-Fath, Ash-Shaf, Al-Hasyr, Al-Hadid, Al-‘Adiyat, dan An-Nashr. Dan ini bukan termasuk surat yang sangat banyak yang telah kami sampaikan beberapa ayatnya tentang peperangan seperti surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, dan sebagainya. Bagaimana kita membiarkan sesuatu yang menjadi perhatian Al-Qur’an dalam beberapa surat ini dan beberapa ayat yang sangat banyak. Sedangkan, kita hidup sebulan atau lebih hanya berputar dengan satu ayat.”
***

Apa yang terjadi di Mesir yang dijumpai Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi di atas juga masih terjadi di lingkungan kita. Betapa banyaknya kajian, tulisan, dan sebagainya yang mengkonsentrasikan pada masalah fiqih. Bukan semua pembahasan tentang fiqih, tetapi hanya sebagian (biasanya juga tentang thaharah) dan diulang-ulang. Sementara dianggap aneh jika ada pengajian yang menjelaskan tentang sirah nabawiyah dan jihad-jihad yang dilakukan Rasulullah.

Seorang kawan pernah menyampaikan protesnya karena di masyarakatnya pengajian hanya berkutat soal thaharah. Awalnya kajian dimulai, dan mengikuti banyak sistematika kitab fiqih, tema pertamanya adalah thaharah. Sekian lama kajian itu berlangsung, tetapi tidak juga beranjak ke pembahasan yang lain. Dan hasilnya, dalam rentang waktu bertahun-tahun, masyarakat tidak memahami Islam kecuali pada masalah thaharah saja. Kawan tadi juga mempertanyakan efektifitas dakwah seperti itu yang tidak pernah berbuah takwin as-syakhsiyah islamiyah; pembentukan pribadi muslim.

Al-Qur’an sebenarnya sudah menunjukkan manhaj dakwah kepada kita. Ia diturunkan selama 13-an tahun di Makkah, berbicara tentang Aqidah. Maka, inilah hal pertama yang harus menjadi konsentrasi dalam pembinaan umat, khususnya oleh gerakan Islam.

Selain melihat bagaimana sistematikan wahyu, hal lain yang harus diambil dari manhaj Al-Qur’an adalah bagaimana perhatian Al-Qur’an terhadap masalah tertentu. Proporsi pembahasan Al-Qur’an seharusnya juga menjadi proporsi kita dalam berdakwah. Kadar perhatian Al-Qur’an yang besar terhadap suatu hal harus menjadikan kita juga memiliki perhatian besar terhadap hal tersebut.

Menutup renungan ini, sudahkan kita mengawali penerapan manhaj Al-Qur’an dalam mendidik anak-anak kita? Pertanyaan yang lebih praktis menyusul kisah nyata Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi di atas: Sudahkah kita menceritakan sejarah nabi dan jihad beliau kepada anak-anak kita? [Muchlisin]
Read More..

Jumat, 06 November 2009

Tata Cara Haji Rasulullah SAW


Bagaimanakah tata cara Rasulullah menunaikan haji? Bagaimanakah manasik haji Rasulullah SAW? Jawaban pertanyaan ini sangat penting mengingat haji merupakan ibadah mahdhah. Sebagaimana ibadah mahdhah yang lain, agar diterima oleh Allah SWT setidaknya ia harus memenuhi dua kriteria. Kriteria pertama adalah ikhlas. Seseorang yang naik haji mestilah memiliki niat ikhlas semata-mata karena Allah. Kalau seseorang naik haji dengan niat agar dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Hajjah” alamat tidak memenuhi kriteria pertama ini.

Kriteria kedua yang harus dipenuhi agar ibadah mahdhah, khususnya haji, diterima Allah SWT adalah ittiba’us sunnah. Artinya, tata cara melaksanakan ibadah haruslah mengikuti Rasulullah SAW. Tidak membuat-buat cara sendiri. Manasik haji-nya harus mencontoh manasik haji Rasulullah SAW. Tidak menciptakan manasik baru. Menegaskan hal ini Rasulullah SAW bersabda:

خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ
Ambillah dariku manasik kalian (HR. Ahmad)

Lalu bagaimanakah cara Rasulullah menunaikan haji? Bagaimanakah manasik haji Nabi kita SAW? Imam Muslim meriwayatkan hadits yang panjang mengenai cara Rasulullah menunaikan haji sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ جَمِيعًا عَنْ حَاتِمٍ - قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْمَدَنِىُّ - عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ فَسَأَلَ عَنِ الْقَوْمِ حَتَّى انْتَهَى إِلَىَّ فَقُلْتُ أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىِّ بْنِ حُسَيْنٍ. فَأَهْوَى بِيَدِهِ إِلَى رَأْسِى فَنَزَعَ زِرِّى الأَعْلَى ثُمَّ نَزَعَ زِرِّى الأَسْفَلَ ثُمَّ وَضَعَ كَفَّهُ بَيْنَ ثَدْيَىَّ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ غُلاَمٌ شَابٌّ فَقَالَ مَرْحَبًا بِكَ يَا ابْنَ أَخِى سَلْ عَمَّا شِئْتَ.
فَسَأَلْتُهُ وَهُوَ أَعْمَى وَحَضَرَ وَقْتُ الصَّلاَةِ فَقَامَ فِى نِسَاجَةٍ مُلْتَحِفًا بِهَا كُلَّمَا وَضَعَهَا عَلَى مَنْكِبِهِ رَجَعَ طَرَفَاهَا إِلَيْهِ مِنْ صِغَرِهَا وَرِدَاؤُهُ إِلَى جَنْبِهِ عَلَى الْمِشْجَبِ فَصَلَّى بِنَا فَقُلْتُ أَخْبِرْنِى عَنْ حَجَّةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَ بِيَدِهِ فَعَقَدَ تِسْعًا فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَكَثَ تِسْعَ سِنِينَ لَمْ يَحُجَّ ثُمَّ أَذَّنَ فِى النَّاسِ فِى الْعَاشِرَةِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَاجٌّ فَقَدِمَ الْمَدِينَةَ بَشَرٌ كَثِيرٌ كُلُّهُمْ يَلْتَمِسُ أَنْ يَأْتَمَّ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَيَعْمَلَ مِثْلَ عَمَلِهِ فَخَرَجْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَيْنَا ذَا الْحُلَيْفَةِ فَوَلَدَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ مُحَمَّدَ بْنَ أَبِى بَكْرٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَيْفَ أَصْنَعُ قَالَ « اغْتَسِلِى وَاسْتَثْفِرِى بِثَوْبٍ وَأَحْرِمِى ». فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى الْمَسْجِدِ ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ حَتَّى إِذَا اسْتَوَتْ بِهِ نَاقَتُهُ عَلَى الْبَيْدَاءِ نَظَرْتُ إِلَى مَدِّ بَصَرِى بَيْنَ يَدَيْهِ مِنْ رَاكِبٍ وَمَاشٍ وَعَنْ يَمِينِهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَعَنْ يَسَارِهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَمِنْ خَلْفِهِ مِثْلَ ذَلِكَ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَيْنَ أَظْهُرِنَا وَعَلَيْهِ يَنْزِلُ الْقُرْآنُ وَهُوَ يَعْرِفُ تَأْوِيلَهُ وَمَا عَمِلَ بِهِ مِنْ شَىْءٍ عَمِلْنَا بِهِ فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ « لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ ». وَأَهَلَّ النَّاسُ بِهَذَا الَّذِى يُهِلُّونَ بِهِ فَلَمْ يَرُدَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَيْهِمْ شَيْئًا مِنْهُ وَلَزِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَلْبِيَتَهُ قَالَ جَابِرٌ - رضى الله عنه - لَسْنَا نَنْوِى إِلاَّ الْحَجَّ لَسْنَا نَعْرِفُ الْعُمْرَةَ حَتَّى إِذَا أَتَيْنَا الْبَيْتَ مَعَهُ اسْتَلَمَ الرُّكْنَ فَرَمَلَ ثَلاَثًا وَمَشَى أَرْبَعًا ثُمَّ نَفَذَ إِلَى مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ - عَلَيْهِ السَّلاَمُ - فَقَرَأَ (وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى) فَجَعَلَ الْمَقَامَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ فَكَانَ أَبِى يَقُولُ وَلاَ أَعْلَمُهُ ذَكَرَهُ إِلاَّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) ثُمَّ رَجَعَ إِلَى الرُّكْنِ فَاسْتَلَمَهُ ثُمَّ خَرَجَ مِنَ الْبَابِ إِلَى الصَّفَا فَلَمَّا دَنَا مِنَ الصَّفَا قَرَأَ (إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ) « أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ ». فَبَدَأَ بِالصَّفَا فَرَقِىَ عَلَيْهِ حَتَّى رَأَى الْبَيْتَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَوَحَّدَ اللَّهَ وَكَبَّرَهُ وَقَالَ « لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كَلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ ». ثُمَّ دَعَا بَيْنَ ذَلِكَ قَالَ مِثْلَ هَذَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ نَزَلَ إِلَى الْمَرْوَةِ حَتَّى إِذَا انْصَبَّتْ قَدَمَاهُ فِى بَطْنِ الْوَادِى سَعَى حَتَّى إِذَا صَعِدَتَا مَشَى حَتَّى أَتَى الْمَرْوَةَ فَفَعَلَ عَلَى الْمَرْوَةِ كَمَا فَعَلَ عَلَى الصَّفَا حَتَّى إِذَا كَانَ آخِرُ طَوَافِهِ عَلَى الْمَرْوَةِ فَقَالَ « لَوْ أَنِّى اسْتَقْبَلْتُ مِنْ أَمْرِى مَا اسْتَدْبَرْتُ لَمْ أَسُقِ الْهَدْىَ وَجَعَلْتُهَا عُمْرَةً فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ لَيْسَ مَعَهُ هَدْىٌ فَلْيَحِلَّ وَلْيَجْعَلْهَا عُمْرَةً ». فَقَامَ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلِعَامِنَا هَذَا أَمْ لأَبَدٍ فَشَبَّكَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَصَابِعَهُ وَاحِدَةً فِى الأُخْرَى وَقَالَ « دَخَلَتِ الْعُمْرَةُ فِى الْحَجِّ - مَرَّتَيْنِ - لاَ بَلْ لأَبَدٍ أَبَدٍ ». وَقَدِمَ عَلِىٌّ مِنَ الْيَمَنِ بِبُدْنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَوَجَدَ فَاطِمَةَ - رضى الله عنها - مِمَّنْ حَلَّ وَلَبِسَتْ ثِيَابًا صَبِيغًا وَاكْتَحَلَتْ فَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا فَقَالَتْ إِنَّ أَبِى أَمَرَنِى بِهَذَا. قَالَ فَكَانَ عَلِىٌّ يَقُولُ بِالْعِرَاقِ فَذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مُحَرِّشًا عَلَى فَاطِمَةَ لِلَّذِى صَنَعَتْ مُسْتَفْتِيًا لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِيمَا ذَكَرَتْ عَنْهُ فَأَخْبَرْتُهُ أَنِّى أَنْكَرْتُ ذَلِكَ عَلَيْهَا فَقَالَ « صَدَقَتْ صَدَقَتْ مَاذَا قُلْتَ حِينَ فَرَضْتَ الْحَجَّ ». قَالَ قُلْتُ اللَّهُمَّ إِنِّى أُهِلُّ بِمَا أَهَلَّ بِهِ رَسُولُكَ. قَالَ « فَإِنَّ مَعِىَ الْهَدْىَ فَلاَ تَحِلُّ ». قَالَ فَكَانَ جَمَاعَةُ الْهَدْىِ الَّذِى قَدِمَ بِهِ عَلِىٌّ مِنَ الْيَمَنِ وَالَّذِى أَتَى بِهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- مِائَةً - قَالَ - فَحَلَّ النَّاسُ كُلُّهُمْ وَقَصَّرُوا إِلاَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَمَنْ كَانَ مَعَهُ هَدْىٌ فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ تَوَجَّهُوا إِلَى مِنًى فَأَهَلُّوا بِالْحَجِّ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَصَلَّى بِهَا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ ثُمَّ مَكَثَ قَلِيلاً حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ وَأَمَرَ بِقُبَّةٍ مِنْ شَعَرٍ تُضْرَبُ لَهُ بِنَمِرَةَ فَسَارَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَلاَ تَشُكُّ قُرَيْشٌ إِلاَّ أَنَّهُ وَاقِفٌ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ كَمَا كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصْنَعُ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَأَجَازَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَتَى عَرَفَةَ فَوَجَدَ الْقُبَّةَ قَدْ ضُرِبَتْ لَهُ بِنَمِرَةَ فَنَزَلَ بِهَا حَتَّى إِذَا زَاغَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ فَرُحِلَتْ لَهُ فَأَتَى بَطْنَ الْوَادِى فَخَطَبَ النَّاسَ وَقَالَ « إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِى شَهْرِكُمْ هَذَا فِى بَلَدِكُمْ هَذَا أَلاَ كُلُّ شَىْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوعٌ وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَائِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ كَانَ مُسْتَرْضِعًا فِى بَنِى سَعْدٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَانَا رِبَا عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ فَاتَّقُوا اللَّهَ فِى النِّسَاءِ فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوهُنَّ بِأَمَانِ اللَّهِ وَاسْتَحْلَلْتُمْ فُرُوجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ. فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ. وَأَنْتُمْ تُسْأَلُونَ عَنِّى فَمَا أَنْتُمْ قَائِلُونَ ». قَالُوا نَشْهَدُ أَنَّكَ قَدْ بَلَّغْتَ وَأَدَّيْتَ وَنَصَحْتَ. فَقَالَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى السَّمَاءِ وَيَنْكُتُهَا إِلَى النَّاسِ « اللَّهُمَّ اشْهَدِ اللَّهُمَّ اشْهَدْ ». ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا ثُمَّ رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى أَتَى الْمَوْقِفَ فَجَعَلَ بَطْنَ نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ إِلَى الصَّخَرَاتِ وَجَعَلَ حَبْلَ الْمُشَاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَذَهَبَتِ الصُّفْرَةُ قَلِيلاً حَتَّى غَابَ الْقُرْصُ وَأَرْدَفَ أُسَامَةَ خَلْفَهُ وَدَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَقَدْ شَنَقَ لِلْقَصْوَاءِ الزِّمَامَ حَتَّى إِنَّ رَأْسَهَا لَيُصِيبُ مَوْرِكَ رَحْلِهِ وَيَقُولُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى « أَيُّهَا النَّاسُ السَّكِينَةَ السَّكِينَةَ ». كُلَّمَا أَتَى حَبْلاً مِنَ الْحِبَالِ أَرْخَى لَهَا قَلِيلاً حَتَّى تَصْعَدَ حَتَّى أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا شَيْئًا ثُمَّ اضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ وَصَلَّى الْفَجْرَ - حِينَ تَبَيَّنَ لَهُ الصُّبْحُ - بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ ثُمَّ رَكِبَ الْقَصْوَاءَ حَتَّى أَتَى الْمَشْعَرَ الْحَرَامَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَدَعَاهُ وَكَبَّرَهُ وَهَلَّلَهُ وَوَحَّدَهُ فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى أَسْفَرَ جِدًّا فَدَفَعَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَأَرْدَفَ الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ وَكَانَ رَجُلاً حَسَنَ الشَّعْرِ أَبْيَضَ وَسِيمًا فَلَمَّا دَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّتْ بِهِ ظُعُنٌ يَجْرِينَ فَطَفِقَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إِلَيْهِنَّ فَوَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدَهُ عَلَى وَجْهِ الْفَضْلِ فَحَوَّلَ الْفَضْلُ وَجْهَهُ إِلَى الشِّقِّ الآخَرِ يَنْظُرُ فَحَوَّلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدَهُ مِنَ الشِّقِّ الآخَرِ عَلَى وَجْهِ الْفَضْلِ يَصْرِفُ وَجْهَهُ مِنَ الشِّقِّ الآخَرِ يَنْظُرُ حَتَّى أَتَى بَطْنَ مُحَسِّرٍ فَحَرَّكَ قَلِيلاً ثُمَّ سَلَكَ الطَّرِيقَ الْوُسْطَى الَّتِى تَخْرُجُ عَلَى الْجَمْرَةِ الْكُبْرَى حَتَّى أَتَى الْجَمْرَةَ الَّتِى عِنْدَ الشَّجَرَةِ فَرَمَاهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ يُكَبِّرُ مَعَ كُلِّ حَصَاةٍ مِنْهَا مِثْلِ حَصَى الْخَذْفِ رَمَى مِنْ بَطْنِ الْوَادِى ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى الْمَنْحَرِ فَنَحَرَ ثَلاَثًا وَسِتِّينَ بِيَدِهِ ثُمَّ أَعْطَى عَلِيًّا فَنَحَرَ مَا غَبَرَ وَأَشْرَكَهُ فِى هَدْيِهِ ثُمَّ أَمَرَ مِنْ كُلِّ بَدَنَةٍ بِبَضْعَةٍ فَجُعِلَتْ فِى قِدْرٍ فَطُبِخَتْ فَأَكَلاَ مِنْ لَحْمِهَا وَشَرِبَا مِنْ مَرَقِهَا ثُمَّ رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَفَاضَ إِلَى الْبَيْتِ فَصَلَّى بِمَكَّةَ الظُّهْرَ فَأَتَى بَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَسْقُونَ عَلَى زَمْزَمَ فَقَالَ « انْزِعُوا بَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَوْلاَ أَنْ يَغْلِبَكُمُ النَّاسُ عَلَى سِقَايَتِكُمْ لَنَزَعْتُ مَعَكُمْ ». فَنَاوَلُوهُ دَلْوًا فَشَرِبَ مِنْهُ.
Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Ishak bin Ibrahim sama-sama menyampaikan hadits kepada kami yang diterimanya dari Hatim. Kata Abu Bakar, “Sebuah hadits disampaikan oleh Hatim bin Ismail Madani kepada kami, yang diterimanya dari Ja’far bin Muhammad yang menerimanya pula dari bapaknya, “Kami datang menemui Jabir bin Abdullah r.a. di rumahnya. Ia pun menanyakan anggota rombongan seorang demi seorang, hingga akhirnya sampai kepadaku. Jawabku, “Aku adalah Muhammad Ali bin Husein”, dan kuletakkan tanganku ke atas kepalaku. Maka ditariknya tanganku sebelah atas, kemudian yang sebelah bawah, lalu ditaruhnya telapak tangannya ke tengah-tengah dadaku dan ketika itu aku masih seorang remaja. Katanya, “Selamat datang, wahai anak saudaraku, tanyakanlah apa yang henak engkau tanyakan.”

Maka aku ajukanlah pertanyaan kepadanya. Ia adalah seorang buta. Rupanya datang waktu shalat, maka ia pun berdiri dengan berselubungkan kain. Tetapi karena kecilnya, setiap diletakkan di atas bahunya, pinggirnya kembali terbuka, sedang jubahnya di sampingnya atas gantungan.

Setelah ia selesai shalat bersama kami, aku katakan kepadanya, “Ceritakanlah kpdku bagaimana cara haji Rasulullah SAW?” Maka ia pun memberi isyarat dengan tangannya, dirapatkannya sembilan buah jarinya, serta katanya,

“Sembilan tahun lamanya Rasulullah SAW tinggal di Madinah tidak melakukan haji, kemudian pada tahun ke-sepuluh diumumkan kepada khalayak ramai bahwa Rasulullah SAW alan berhaji. Maka banyaklah orang yang datang ke Madinah, hendak mengiktui Rasulullah SAW dan mencontoh amal perbuatannya.

Kami pun berangkat bersamanya hingga sampai ke Dzul Hulaifah. Kebetulan Asma binti Umais melahirkan putra yaitu Muhammad bin Abi Bakar. Maka disuruhnya orang menemui Rasulullah untuk menanyakan apa yang harus dilakukannya. Sabda Rasulullah SAW, “Mandilah engkau dan ikatkanlah perban pada kemaluanmu, lalu ihramlah.”

Kemudian Rasulullah SAW melakukan shalat di masjid lalu meniki Koswa, yaitu untanya, hingga setalah hewan itu berada di padang pasir, dilihatnya di depannya lautan manusia sejauh mata memandang, ada yang di atas kendaraan dan ada pula yang berjalan kaki. Ketika menoleh ke sebelah kanan, dilihatnya seperti itu pula, begitu pula di sebelah kiri dan di belakangnya. Jadi Rasulullah SAW berada di kalangan kami, kepadanya diturunkan Al-Qur’an dan ia mengetahui arti tafsirnya, dan apa-apa yang dilakukannya maka kami kerjakan pula.

Maka ia pun membaca talbiyah dengan suara keras, “Labbaikallahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda waa ni’mata laka walmulk, laa syariika lak. (Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, aku datang, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya puji-pujian dan nikmat karunia itu adalah milik-Mu, begitu pula kerajaan, tiada sekutu bagi-Mu).”

Orang-orang pun mengucapkan talbiyah seperti itu, sedangkan Rasulullah SAW tiada menolak sedikitpun ucapan mereka, hanya ia meneruskan membaca talbiyahnya.

Cerita Jabir r.a. selanjutnya, “Kami hanya meniatkan haji, karena kami belum lagi mengenal umrah. Demikianlah setelah kami sampai ke Ka’bah bersamanya, ia pun mengusap rukun atau sudutnya dengan telapak tangan. Ia berlari-lari kecil tiga kali dan berjalan biasa empat kali, lalu terus ke maqam –tempat berdiri menjalankan ibadah- Ibrahim a.s. dan membaca “Wattakha-dzuu min maqaami Ibraahiima mushallaa” (Mereka ambil maqam Ibrahim sebagai mushalla). Kemudian ia berdiri di suatu tempat hingga maqam itu berada diantaranya dengan ka’bah untuk melakukan shalat. Pada shalat dua rakaat itu dibacanya surah Al-Ikhlas dan surah Al-Kaafiruun, lalu ia kembali ke rukun tadi serta mengusapnya. Setalah itu ia keluar dari pintu gerbang menuju Shafa. Setelah dekat ke Shafa, dibacanya, “Innash shafaa wal marwata min sya’aairillaah abdau bunaa badallaahubih. (Sesungguhnya Shafa dan Marwa itu termasuk diantara syiar-syiar Allah, aku mulai dengan apa yang dimulai Allah).”

Maka dimulainya dari Shafa, lalu didakinya bukit itu hingga kelihatan olehnya Ka’bah. Ia menghadap kiblat lalu membaca kalimat tauhid dan takbir serta katanya, “Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa alaa kulli syaiin qadir. Laa ilaaha illallaahu wahdah, anjaza wa;dahu wa nashara abdahu wahazamal ahzaaba wahdah. (Tiada Tuhan melainkan Allah, Maha Esa lagi tidak berserikat. Bagi-Nyalah kerajaan dan milik-Nya pujian, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu. Dipenuhi-Nya janji-Nya, dibantu-Nya, hamba-Nya, dan dikalahkan-Nya pihak yang bersekutu seorang diri-Nya).”

Sementara itu, ia berdoa di celah-celah upacara tadi. Hal di atas diulanginya hingga tiga kali. Setelah itu ia turun ke Marwa, hingga kedua tumitnya telah berpijak di perut lembah, ia pun mulai berlari. Kemudian setelah sampai di tempat mendaki, kembali ia berjalan kaki hingga tiba di Marwa. Di sini dilakukannya pula seperti di Shafa.

Ketika thawafnya yang penghabisan berakhir di Marwa, beliau bersabda, “Seandainya aku nanti melakukan lagi apa yang telah aku ibadahkan (aku kerjakan) tadi, aku tidak akan membawa hewan qurban, hanya aku jadikan saja ibadahku tadi sebagai umrah. Maka barangsiapa diantaramu tidak memiliki qurban, hendaklah ia ihlal dan menjadikan ibadahnya sebagai umrah.”

Maka berdirilah Suraqah bin Malik dab bertanya “Ya Rasulullah, apakah hanya untuk tahun ini at selama-lamanya?” Rasulullah pun mempersilangkan jari-jari tangannya, yang satu pada yang lain, lalu bersabda, “Umrah dalam haji selama dua kali masa, tidak, bahkan buat selama-lamanya.”

Sementara itu Ali tiba dari Yaman dan membawa hewan-hewan qurban untuk Rasulullah SAW. Didapatinya Fatimah r.a. telah ihlal bersama orang-orang itu, ia memakai pakaian bercelup dan bercelak mata. Ali menyalahkannya berbuat demikian itu, tetapi kata Fatimah, “bapaklah yang menyuruhku melakukannya.”

Ulas Jabir, “Di Irak, Ali bercerita “Aku pun pergi menemui Rasulullah SAW agar ia memarahi Fatimah atas perbuatannya itu, sambil meminta fatwanya mengenai ucapan Fatimah itu, dengan tak lupa mengatakan bahwa aku telah menyalahkannya.” Maka sabdanya, “Benar, benarlah apa yang dikatakannya itu! Apa yang kau ucapkan ketika hendak memulai haji?” Ujarku, “Ya Allah, aku bertalbiyah sebagaimana diucapkan Rasul-Mu”

Sabda Nabi pula, “Aku memiliki hewan untuk qurban, maka tak usah kau ihlal dulu.”

Cerita Jabir, “Jumlah hewan yang dibawa Ali dari Yaman dan yang disediakan oleh Nabi SAW ada seratus ekor. Maka semua orang-orang pun berihlal dan bercukur semua kecuali Nabi SAW dan orang-orang yang memiliki hewan untuk qurban.”

Ketika tiba hr tarwiyah, yakni tanggal 8 Dzulhijjah, mereka berangkat menuju Mina, dan bertalbiyah untuk haji. Rasulullah SAW menunggangi kendaraan dan di sana ia melakukan shalat zhuhur, ashar, magrib, isya, dan subuh.

Ia tinggal di sana sebentar menunggu matahari terbit, dan menempuh waktu sambil menyuruh orang mendirikan kemah dari kayu di Namirah. Kemudian Rasulullah SAW berjalan dan orang-orang Quraisy merasa yakin bahwa ia tentu akan wukuf fi Masy’aril Haram sebagaimana dilakukan Quraisy di masa jahiliyah.

Tetapi rupanya Rasulullah SAW langsung dan terus ke Arafah dan kemah telah didirikan di Namirah. Ia pun berhenti di sana dan ketika matahari tergelincir, maka ia menghalau Kuswa berjalan hingga sampai di bagian bawah lembah. Di sana ia berpidato di hadapan manusia. Sabdanya, “Sesungguhnya darah dan harta bendamu adalah suci bagimu sebagaimana sucinya hari ini, di bulan ini, dan di negeri ini. Ketahuilah bahwa segala sesuatu tentang urusan jahiliyah telah hapus dan ditaruh di bawah telapak kakiku. Tuntutan darah masa jahiliyah telah dibatalkan, dan tuntutan yang mula-mula dihapuskan dari darah kita adalah Ibnu Rabi’ah bin Harits, ia disusukan di Bani Sa’ad dan dibunuh oleh suku Hudzail. Riba jahiliyah juga batal dan riba kita yang pertama aku batalkan adalah riba Abbas bin Abdul Muthalib, semuanya menjadi hapus.

Dan takutlah engkau kepada Allah mengenai wanita karena engkau mengambil mereka dengan jaminan Allah, dan engkau halalkan kehormatan mereka asal tidak melewati batas. Dan adalah hak engkau atas mereka bahwa tidak seorangpun yang engkau senangi boleh mereka izinkan menginjak pekaranganmu. Seandainya hal itu mereka lakukan, bolehlah engkau memukul mereka asal tidak melampaui batas. Sebaliknya, menjadi kewajibanmu terhadap mereka, memberi mereka nafkah dan pakaian secara patut. Sungguh, telah aku tinggalkan untukmu sesuatu yang jika engkau pengang teguh, engkau tidak akan sesat setelah itu, yaitu Kitabullah. Kelak engkau akan ditanyai mengenai aku, maka apa katamu?”

Ujar mereka, “kami mengakui bahwa engkau telah memberikan nasihat.”

Sabda beliau sambil mengacungkan telunjuk ke langit lalu menudingkannya kepada manusia bolak-balik berkali-kali, “Ya Allah, saksikanlah! Ya Allah maka saksikanlah.” Sebanyak tiga kali.

Kemudian ia pun azan, lalu qamat dan melakukan shalat zhuhur, lalu qamat lagi dan melakukan shalat asar, tanpa diselingi suatu shalat pun antara keduanya.

Setelah itu, Rasulullah SAW menaiki kendaraannya lagi hingga tiba di Mauqif. Di sana dihentikannya kendaraannya hingga perut Kuswa telah berada di atas tanah. Bukit tempat berhimpun orang-orang yang berjalan kaki berada di depannya, sedang ia sendiri menghadap ke kiblat.

Rasulullah SAW masih tetap berdiri hingga matahari terbenam warna kuning mulai lenyap hingga bola matahari pun tenggelam. Disuruhnya Usamah membonceng di belakang, lalu Rasulullah pun berangkat.

Tali kekang ditarik kuat-kuat, hingga kepala hewan itu hampir saja bersentuhan dengan tempat si pengendara menaruh kaki, lalu sabda beliau sambil memberi isyarat dengan tangan kanan, “Wahai manusia. Tetaplah tenang.”

Setiap melalui tempat mendaki, diulurkannya tali kekang sedikit hingga tiba di atas. Akhirnya sampailah di Muzdalifah, lalu melakukan shalat magrib dan isya dengan sekali azan dan dua kali iqamat, sedang diantara kedua shalat itu ia tidak membaca tasbih sedikitpun.

Setalah itu Rasulullah SAW berbaring tidur hingga terbit fajar. Ketika waktu subuh telah tiba, beliau mengerjakan shalat subuh, dengan skeali azan dan skeali iqamat. Kemudian dinaikinya Kuswa dan hingga sampai Masy’aril Haram. Ia menghadap kiblat, lalu berdoa kepada Allah, membaca takbir, tahlil, dan kalimat tauhid. Ia tetap berdiri hingga hari benar-benar terang. Sebelum matahari terbit, Nabi pun berangkat dan membonceng fadhal bin Abbas. Ia adalah laki-laki yang berambut dan berparas elok dan kultinya putih.

Kebetulan ketika Nabi mulai berangkat itu, lewatlah di dekat beliau kendaraan-kendaraan bermuatan pemumpang wanita dari Bahrain. Mata Fadhal terus memandangi mereka. Maka Rasulullah SAW menutupi wajah fadhal dengan telapak tangan beliau, hingga Fadhal memutar wajahnya dan memandangi mereka dari arah lain. Kembali Rasulullah menutupi wajah Fadhal dari arah sebelah hingga Fadhal terpaksa mengubah arah pandangannya. Akhirnya sampailah Nabi di lembah Muhasir. Ia bergerak sedikit lalu menempuh jalan tengah yakni yang menuju ke Jumrratul Kubra.

Tibalah ia di Jumrah yang terletak dekat pohon kayu. Maka dilemparnya dengan tujuh kerikil dan setiap melemparkan satu kerikil yang besarnya seperti batu untuk melempar itu, ia membaca takbir. Nabi melakukannya dari dasar lembah. Setelah itu, ia berpaling menuju tempat penyembelihan dan menyembelih enam puluh ekor hewan kurban dengan tangan sendiri, lalu menyerahkan kepada Ali yang menyembelih sisa yang tinggal dan dibawa serta oleh Nabi dalam berkurbannya.

Kemudian disuruhnya mengambil sekarat daging tiap-tiap unta yang disembelih, dimasukkannya ke dalam belanga dan dimasak. Mereka memakan daging tersebut dan meminum kuahnya. Setelah itu, Rasulullah SAW berkendaraan lagi dan melakukan thawaf ifadhah di Ka’bah, lalu shalat zhuhur di Makkah. Kemudian Nabi pergi menemui Abdul Muthalib untuk memintakan jamaah air minum dari telaga zamzam. Nabi bersabda, “pergilah meminta air kepada Bani Abdul Muthalib dan timbalah. Seandainya aku tidak takut orang-orang akan berebut air hingga engkau terdesak –karena mengira bahwa hal itu termasuk upacara haji- tentu akan juga akan turut menimba bersamamu.”

Mereka pun memberikan air minum seember kepada Nabi SAW yang diminum sebagaian.
(HR. Muslim)

Wallaahu a'lam [Muchlisin]
Read More..

Kamis, 05 November 2009

Mantan Rapper AS Bantah Kebohongan Media Tentang Islam Lewat Acara TV


"Islam adalah agama terbelakang, teroris dan merendahkan perempuan, adalah beberapa kebohongan yang di kampanyekan oleh media tentang Islam," kata mantan rapper Amerika yang memeluk Islam - Mutah Beale yang bernama lain Napoleon.

Untuk mengkonter stereotip negatif media terhadap Islam, Mutah Beale pada bulan depan akan meluncurkan sebuah acara TV terkait tentang Islam.

Beale, yang dulunya tenar sebagai anggota grup musik hip hop "Outlawz" yang dibentuk oleh legenda hip hop Tupac Shakur, akan meluncurkan "Napoleon TV" pada 1 Desember mendatang untuk memperkenalkan kepada masyarakat kebenaran Islam dan dan mengkonter apa yang ia sebut "kebohongan" media tentang Islam.

"Sepertinya di Amerika - media menyerang Islam dengan segala cara yang bisa digunakan, jadi saya memutuskan untuk menggunakan media untuk memberikan pemahaman masyarakat tentang agama Islam yang benar, secara utuh dan penuh kedamaian," kata Beale kepada Al Arabiya.

Napoleon TV, akan diluncurkan di Inggris pada saluran jaringan kabel "Sky's Up & Coming" - di mana Beale akan menyampaikan kepada para pendengarnya dengan menyajikan segmen-segmen campuran dari para selebriti untuk memperkenalkan Islam dengan menjelaskan ayat-ayat dari Quran.

Acara ini, akan menjangkau masyarakat di Eropa dan Afrika Utara, juga akan memberikan kesempatan kepada umat Islam di Barat yang tidak dapat berinteraksi langsung dengan para ulama di Timur Tengah untuk bertanya mengenai fatwa-fatwa agama, untuk penggantinya pemirsa acara ini dapat menelepon dan meminta nasihat dari para ulama terkemuka di inggris, menurut Beale program ini akan membantu umat Islam yang membutuhkan panduan mengenai hal-hal keagamaan.

Beale juga akan menggunakan saluran ini - yang menggunakan brand mark namanya nya sendiri sebagai wadah untuk mengudarakan sebuah dokumenter tentang kehidupan dirinya yang berjudul "Life of an Outlaw" yang akan diproduksi oleh aktor dan juga komedian Hollywood - Mike Epps .

Pemirsa juga akan mengikuti sebuah acara reality show yang akan memotret kehidupan sehari-hari mantan rapper tersebut yang telah masuk Islam dalam sebuah segmen acara bertajuk "Napoleon - The Real Me."

Ketika ditanya apa yang membuat hidupnya begitu menarik, Beale menjawab: "Saya ingin orang melihat bahwa menjadi seorang Muslim adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, yang bisa membawa anak-anak saya ke pertandingan sepak bola atau saya hadir dalam sebuah pertemuan bisnis."

"Orang-orang akan melihat saya menjalankan bisnis sementara itu saya juga berusaha untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah."

Para pemirsa acara Napoleon TV juga akan bisa melihat rekaman eksklusif Beale di negara Afrika Gambia di mana dia sedang mengerjakan proyek untuk membuka sebuah panti asuhan bekerja sama dengan lembaga amal yang bermarkas di Inggris - Muslim Global Relief.

"Saya seorang yatim piatu dan hal ini merupakan sesuatu yang ingin saya lakukan karena sangat menyentuh hati saya," kata Beale. Dirinya juga menjelaskan bahwa ia tidak memperoleh satu sen pun dari usaha untuk membantu anak yatim dan semua uang yang didapat akan dipakai untuk membantu anak yatim piatu."

Perhentian berikutnya setelah Gambia, bisa dari Gaza ke Kashmir "di mana saja di mana mereka akan menerima kita," kata Beale.

Beale berharap Napoleon TV akan ditonton oleh umat Islam yang ingin belajar tentang agama mereka dan non muslim yang telah salah paham tentang Islam atau siapa saja yang tertarik untuk memahami mengapa seseorang yang albumnya laku sampai 40 juta kopi diseluruh dunia dan hidup dalam kemewahan, rela untuk melepaskan itu semua dan masuk Islam.

"Tujuan saya adalah untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang Islam dan memberikan pemahaman yang benar tentang agama Islam.

Napoleon TV akan diluncurkan pada tanggal 1 Desember di Sky channel 843. Acara ini akan mengudara setiap hari dari jam 8 malam sampai jam 9 malam.(fq/aby, eramuslim)
Read More..

Rabu, 04 November 2009

Serangan dan Penindasan ke Masjid Al-Aqsha dari Waktu ke Waktu


Pada tahun 1967, setelah perang di bulan Juni, tentara Israel menduduki Tembok Barat dan menyita bagian dari Waqaf Masjid Al-Aqsa. Mereka membongkar wilayah Magharibah dan menghancurkan 138 gedung, termasuk didalamnya sekolah favorit dan Al-Jami Buraq serta Masjid Magharibah. Kemudian berlanjut pada serangkaian serangan lainya.

Pada 9 Agustus 1969, seorang rabi di militer Zionis, Shlomo Goren masuk ke Al-Haram Al-Quds memimpin geng Yahudi yang berjumlah sekitar lima puluh orang untuk menunaikan "doa" di dalamnya.

Pada 21 Agustus 1969, orang Yahudi radikal berkewarganegaraan Australia bernama Michael Dennis Rohan membakar Masjid Al Aqsa, yang mengakibatkan kehancuran mimbar Salahuddin yang berusia lebih dari delapan ratus tahun serta langit-langit atapnya juga ikut terbakar.

Pada 2 November 1969 Yigal Alon, Wakil Perdana Menteri Israel dan para pembantunya memasuki Al-Haram Al-Quds.

Pada 11 Juli 1971 kelompok gerakan Betar yang terdiri dari 12 anak muda memasuki Masjid al-Aqsha dan melakukan ritual ibadah didalamnya.

Pada 22 Juli 1971 sekelompok gerakan Betar melakukan doa di Al-Haram Al-Quds.

Pada 14 Januari 1989, beberapa anggota Knesset melakukan tindakan provokatif dengan menggelar bacaan yang suka disebut "rahmat suci" di dalam Al-Aqsha dengan pengawalan ketat kepolisian Israel.

Pada 18 Oktober 1990, ekstremis Yahudi meletakkan batu pertama untuk pembangunan Haikal yang mereka klaim berada di areal Al-Haram Al-Quds. Sementara itu ribuan Palestina bangkit berupaya menghentikannya, hingga terjadinya bentrokan dan masuknya tentara Israel. Mereka menembaki warga yang menyebabkan 21 orang gugur syahid dan 150 lainya luka-luka.

Pada 28 September 2000, mantan perdana menteri Israel yang saat itu pemimpin Partai Likud Ariel Sharon, menyerbu Masjid Al-Aqsha Masjid dikawal puluhan orang bersenjata, hingga memicu meletusnya intifadah Al-Aqsa, yang menewaskan dan melukai ribuan warga Palestina.

Pada 23 Juli 2007, sekitar tiga ratus yahudi menyerbu Al-Aqsha dan melakukan ritual ibadah di dalamnya.

Pada 16 September 2008, kelompok Yahudi ekstremis menyerbu halaman Al-Aqsa Masjid dari Gerbang Magharibah.

Pada 9 Oktober 2008 sejumlah kelompok besar pemukim dan rabi serta politisi Israel dibawah penjagaan katat kepolisian Israel melakukan aksi yahudisasi di wilayah Al-Ahram Syarif.

Pada 9 Februari 2009, ratusan wisatawan dan turis Israel yang mengenakan "pakaian seronok" memasuki Masjid Al-Aqsa.

Pada 11 Maret 2009, sekelompok orang yang terdiri dari tiga puluh ultra kanan Yahudi mengenakan pakaian yang tidak pantas menyerbu halaman Masjid Al-Aqsha untuk menggelar upacara keagamaan.

Pada 14 April 2009, puluhan pemukim Yahudi menyerbu halaman Al-Aqsha untuk melakukan ritual ibadah pada hari Paskah Yahudi.

Pada 24 September 2009, anggota unit "ahli bahan peledak" dalam kawalan kepolisian Israel menyerbu Masjid Al Aqsa dan jalan-jalan di dalamnya.

Pada 27 September 2009, terjadi bentrokan dengan polisi Israel dan kelompok Yahudi di dalam Haram al-Sharif dan di depan gerbangnya yang mengakibatkan 16 warga Palestina cidera dan lainya ditangkap. Bentrokan itu terjadi setelah polisi Israel menyerbu halaman masjid dari gerbang Magharibah dan menembaki jama’ah shalat dengan peluru dan granat suara. Mereka berupaya membubarkan barisan kaum muslimin yang berjaga-jaga di gerbang Al-Aqsha untuk menghalau serangan kelompok radikal.

Pada 25 Oktober 2009, Kelompok radikal Yahudi menyerang masjid Al-Aqsa di bawah kawalan polisi Zionis Israel. Namun upaya itu dihadang oleh jama'ah masjid hingga menimbulkan 10 korban luka dan 15 lainnya ditangkap pihak Zionis Israel. [sumber: infopalestina.com]
Read More..

Senin, 02 November 2009

Materi Tarbiyah: Syahadat dan Iman (3)



Materi tarbiyah berikut ini merupakan kelanjutan dari Syahadat dan Iman (1) serta Syahadat dan Iman (2). Materi ini diambil dari buku Seri Materi Tarbiyah: Syahadat dan Makrifatullah. Buku tersebut ditulis oleh Ust. Cahyadi Takariawan, Ust. Wahid Ahmadi, dan Ust. Abdullah Sunono. Buku ini sangat penting sebagai referensi tarbiyah dan karenanya perlu dibaca oleh pada dai dan murabbi.
***

ISTIQAMAH

Keimanan yang kuat suatu saat bukanlah awal dan akhir sekaligus. Mengapa? Karena hidup manusia terus berlangsung melalui berbagai dinamikanya. Cobaan, godaan, kesenangan, penderitaan, kesulitan, dan berbagai nuansa kehidupan terus silih berganti menimpa manusia. Oleh karena itu, ada kalanya orang mengawali hari denganiman, tetapi iman itu luntur di kala siang. Di pagi hari hatinya mantap dengan syariat Allah, namun di waktu asar hatinya telah menyeleweng jauh dari syariat Islamj tersebut. Karenanya, ada tantangan setelah iman telah menancap, yaitu sikap istiqamah. Ia adalah "Luzum ath-tha'ah (konsistensinya ketaatan)," kata Umar bin Khattab.

Suatu ketika Muadz bin Jabal menghadap Rasulullah SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, katakan kepadaku tentang Islam yang saya tidak mendapatkannya dari yang lain."

Beliau menjawab,
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
"Katakan, aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah."

Dengan kata lain, yang dituntut bukan hanya sekali menyatakan persaksian iman, akan tetapi harus diikuti dengan sikap konsisten dalam keimanan untuk selama-lamanya. Konsistensi dalam iman, atau sering disebut sebagai sikap istiqamah, merupakan keharusan untuk menunjukkan bahwa keimanan kita telah masuk ke jiwa secara sempurna, bukan hanya ungkapan lisan semata. Rasulullah menolak masyarakat badui yang menyatakan telah beriman, sedangkan mereka belum konsisten dalam menegakkan konsekuensi keimanan tersebut.

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آَمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ [الحجرات/14]
Orang-orang Arab badui itu berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah (kepada mereka), "kamu belum beriman, tetapi katakanlah kami telah tunduk," karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu" (QS. Al-Hujurat : 14)

Ayat di atas menunjukkan celaan dan teguran Allah terhadap orang-orang badui yang terlalu mudah mengucapkan kata-kata iman. Pada kenyataannya, Allah tidak akan membiarkan setiap manusia mengatakan dirinya telah beriman, tetapi akan ada ujian yang diberikan kepada setiap pernyataan iman itu.

Allah SWT berfirman,
الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3) [العنكبوت/1-3]
Alif lam mim, apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar (keimanannya) dan Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut : 1-3)

Sikap istiqamah dalam keimanan telah ditampakkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau tatkala mereka menjalani kehidupan yang penuh tantangan sejak dari di Makkah hingga Madinah. Pembelaan yang prima terhadap nilai keimanan telah mereka tunjukkan dalam ketegaran sikap menghadapi berbagai cobaan, tanpa ada keraguan sedikit pun. Tidak goyah oleh rayuan, tidak mundur oleh tekanan, tidak gamang oleh cercaan, tidak luntur oleh godaan. Inilah konsistensi iman yang telah diukir dalam sejarah perjuangan generasi keemasan Islam.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [الحجرات/15]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat : 15)

Allah SWT memberikan penghargaan yang amat tinggi kepada orang-orang beriman yang istiqamah mempertahankan keimanannya. Hal ini karena dalam kenyataan keseharian, tidak mudah untuk bersikap istiqamah. Lebih banyak orang terjebak dalam penyimpangan atau inkonsistensi keimanan, dibandingkan mereka yang menunjukkan kesungguhan menjaga iman.

Kondisi kehidupan kita saat ini, berbagai bentuk penyimpangan telah melanda masyarakat di semua bidang. Dalam bidang sosial, ekonomi, politik, pemerintahan, hukum, seni dan budaya, tampaklah kenyataan yang tidak menujukkan konsekuensi dari keimanan. Di masjid masyarakat berkumpul untuk menampakkan sisi keimanan kepada Allah, akan tetapi begitu kembali ke kantor, ke pasar, ke masyarakat, seakan-akan keimanan telah tanggal dan tiada bekas yang tampak pada kegiatan hidup mereka.

Sedemikian beratnya untuk bersikap istiqamah demi mempertahankan iman, hingga Allah pun memberikan janji kepada siapa pun yang beriman dan konsistensi dalam keimanan.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (30) نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (31) [فصلت/30، 31]
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqamah) maka para malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta." (QS. Fushilat : 30-31)

Ayat di atas telah menujukkan perhatian, kasih sayang, dan penghargaan Allah kepada orang-orang beriman yang meneguhkan pendirian, sekaligus janji yang pasti dipenuhi. Paling tidak ada tiga hasil (natijah) sikap istiqamah dalam keimanan yang ditunjukkan Allah dalam ayat di atas.

Keberanian (Asy-Syaja'ah)

Orang-orang yang beriman dan istiqamah dalam iman, akan muncul sikap berani menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Terhapuslah sifat kepengecutan dalam setiap orang yang konsisten mempertahankan iman, karena Allah menurunkan malaikat yang menjaga dan membisikkan "janganlah kamu merasa takut." Mereka tidak takut hidupdengan segala resiko kehidupan, sebagaimana mereka tidak takut kematian.

Pada salah satu episode dari Perang Uhud, Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!"
Ibnu Hamman Al-Anshari bertanya, "Wahai Rasulullah, selauas langit dan bumi?"
"Benar!" jawab Rasulullah.
Umair Ibnu Hamman berkata, "Sungguh beruntung, sungguh beruntung!"
"Apakah yang mendorongmu berkata demikian?" tanya Rasulullah.
"Aku berharap semoga akau dapat memasukinya,"
"Engkau termasuk orang yang memasukinya," kata Rasulullah.

Selanjutnya, ia mengeluarkan beberapa biji kurma dari skunya untuk dimakan. Setelah itu, ia berkata, "Untuk menunggu sampai habisnya kurma ini, sungguh hidup yang amat panjang."

Serta merta ia pun melemparkan buah kurma itu, lalu berangkat ke medan pertempuran hingga terbunuh.

Dalam kisah yang lain, Abu Bakar bin Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Sewaktu kami sedang berhadapan dengan musuh, aku dengar ayahku berkata bahwa Rasulullah telah bersabda, "Sesungguhnya pintu surga itu ada di bawah naungan pedang."

Waktu itu seorang pemuda yang tampak tidak tertarik, bergegas bangkit dan bertanya, "Hai Abu Musa Al-Asy'ari, apakah engkau benar-benar mendengar Rasulullah bersabda demikian?"

"ya, benar!" jawab Abu Musa. Kemudian pemuda itu balik menuju kawan-kawannya dan berkata, "Aku kemari hanya untuk mengucapkan selamat tinggal saja kepada kalian."

Setelah itu, ia patahkan sarung pedangnya dan segera maju ke barisan musuh dengan pedang, kemudian ia dijumpai telah wafat sebagai syahid."

Tampaklah jiwa perwira, hingga dengan gagah perkasa menjumpai kematian yang mulia sebagai syuhada'.

Ketenangan (Ath-Thuma'ninah)

Orang-orang yang konsisten dalam keimanan akan memperoleh rasa tenang dan gembira dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak diliputi oleh perasaan sedih, cemas, gelisah, dan ketidakpastian, sebab malaikat menjaga mereka dengan membisikkan, "jangalah kamu merasa sedih." Hilanglah kesusahan dan muncullah kegembiraan menghadapi realitas kehidupan.

Betapa banyak masyarakat yang dilanda kecemasan dan ketidaktenangan dalam menghadapi kehidupan. Penyebabnya adalah tekanan ekonomi, harga-harga bahan pokok yang semakin tinggi, hingga berdampak kepada perasaan cemas dan khawatir secara berlebihan. Bahkan mereka yang telah memiliki kekayaan melimpah, ternyata justru semakin banyak kecemasan mereka simpan. Takut hartanya hilang atau berkurang, khawatir rumahnya dirampok orang, atau cermat menghadapi persaingan kemewahan.

Hanya orang beriman dan istiqamah dalam imanlah yang akan mampu menjalani hidup dengan penuh ketenangan diri. Karena orientasi ukhrawi inilah, yang tidak menjadikan materi sebagai tujuan kehidupan, sehingga mereka bisa menikmati hidup secara lebih bijaksana. Sebagian masyarakat menganggap masa sekarang sebagai zaman edan, yang mengharuskan semua orang mengikuti selera kegilaan zaman agar bisa bertahan dan sukses dalam hidup. Sesungguhnya, prinsip seperti itu hanyalah menunjukkan kegelisahan diri menghadapi persoalan kehidupan.

Mereka tidak memiliki pegangan yang pasti, sehingga cenderung labil jika dihadapkan realitas tantangan. Umat beriman memiliki pegangan yang amat kukuh, yakni keyakinan kepada Allah yang akan memberikan balasan berupa kebahagiaan tiada batas di akhirat kelak, sebagaimana ungkapan malaikat "Dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

Optimisme (At-Tafa'ul)

Orang-orang yang istiqamah dalam keimanan akan memiliki pandangan hidup yang optimis, terjauhkan dari kecil hati dan pesimisme. Allah telah menjanjikan sebuah penghargaan besar, "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta."

Banyak orang yang bekerja dalam kehidupan dunia untuk tujuan-tujuan praktis keduniaan, sehingga mereka memiliki optimisme hidup, padahal itu sama sekali tidak ada jaminan tentang kehidupan akhirat. Sementara orang-orang yang istiqamah dalam iman, telah dijanjikan kehidupan yang penuh perlindungan, baik di dunia maupun akhirat. Tentu optimisme menghadapi kehidupan harus tumbuh secara optimal, dibandingkan dengan orang-orang yang berpaham serba materi.

Allah memberikan sebuah visi makro dalam membangkitkan semangat manusia beriman, bahwa mereka telah menggenggam jaminan yang akan membuat kehidupan menjadi sedemikian membahagiakan. Adakah bank, asuransi, yang berani memberikan garansi kebahagiaan di dunia hingga akhirat? Hanya Allah yang bisa memberikan jaminan kebaikan hidup, baik di dunia maupun akhirat.

Di sinilah orang-orang yang istiqamah dalam iman mendapatkan optimisme, karena jaminan kebaikan hidup datangnya langsung dari Allah SWT. Optimisme yang terbangun bersifat hakiki, bukan sesuatu yang semu dan menipu. Bukan candu atau opium yang memabukkan atau meninabobokan, sebab setiap keteguhan pasti akan berujung kepastian. Pada ideologi materialisme, yang terbangun adalah harapan-harapan yang bersifat nisbi, serba tidak pasti, sebagaimana nilai materi itu sendiri.

Akhirnya, kebahagiaan benar-benar akan didapatkan oleh orang-orang yang beriman dan istiqamah dalam keimanan. Mereka mendapatkan jaminan kebaikan hidup di dunia maupun di akhirat sebagai balasan dari konsistensinya dalam mempertahankan keimanan.

Ibnu Katsir dalam menjelaskan surat Fushilat di atas menyebutkan, "Kami, kata malaikat selanjutnya, adalah teman-teman dan pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia menjaga dan melindungimu dengan seizin Allah, tetap menjadi temanmu dalam kehidupan akhirat, menghiburmu dalam kesepian kubur, pada waktu sangkakala ditiup, dan saat kebangkitan. Selain itu, juga akan membawamu melalui sirath menuju gerbang surga."

Adakah kebahagiaan yang lebih dari kondisi tersebut? [sumber: Buku Seri Materi Tarbiyah; Syahadat dan Makrifatullah]
Read More..

Minggu, 01 November 2009

Spirit Memimpin


Memimpin adalah pekerjaan mulia, bila pelakunya jujur. Sebab dengannya ia akan mendapatkan kepercayaan. Lebih dari itu ia akan mendapatkan pahala yang besar, sebab yang ia tolong bukan orang perorang, melainkan sejumlah besar manusia. Karenanya Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada pemimpin yang adil bahwa kelak ia akan termasuk golongan yang dilindungi dari terik yang sangat panas di hari kiamat. Untuk itu tidak cukup seorang pemimpin sekedar bermodal uang, karena kebutuhan rakyat bukan hanya uang. Banyak orang salah paham tentang kepemimpinan.

Sebagian mengira bahwa yang penting dalam memimpin adalah bagaimana membuat rakyat sejahtera secara materi. Bila ini target yang diperjuangkan pemimpin, maka ia akan menjadikan kegiatan pokoknya semata mengejar materi. Pemasukan negara ditingkatkan. Adapun sisi lainnya seperti moral dan agama diabaikan. Akibatnya rakyat menjadi kaya secara materi namun kering dari segi ruhani. Penelitian membuktikan bahwa banyaj rakyat yang hidup di negara-negara kaya menderita secara psikologis. Padahal mereka dari segi materi terpenuhi. Diantara penyakit yang banyak menimpa masyarakat kaya adalah bunuh diri. Ini menunjukkan bahwa kekayaan secara materi bukan satu-satunya target kepemimpinan.

Sebagian yang lain mengatakan bahwa yang penting adalah bagaimana membuat negara menjadi maju secara teknologi. Ini juga tidak menjamin kebahagiaan rakyatnya. Teknologi bukan segala-galanya bagi kemanusiaan. Bahkan boleh jadi kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan pembangunan moral justru akan melahirkan bencana bagi manusia. Tidak sedikit masyarakat yang maju secara teknologi, mereka mengalami berbagai penderitaan. Banyak teknologi digunakan untuk membunuh dan berbuat jahat. Dari sini nampak bahwa kepemimpinan bukan hanya berpikir tentang teknologi melainkan harus berpikir secara utuh bagaimana menyelamatkan kemanusiaan dalam negerinya.

Sebagian yang lain melihat bahwa yang penting bagaimana membuat negara menjadi kuat dan ditakuti oleh negara-negara lain. Pemimpin seperti ini cenderung akan sibuk memperhatikan pembangunan militernya. Dan biasanya dia tidak akan perhitungan untuk berkorban demi peningkatan persenjataan. Tidak hanya itu ia akan berusahan untuk menakut-nakuti negara lain supaya tunduk di bawahnya. Dalam dirinya tertanam kerakusan untuk berkuasa. Pemimpin seperti ini hadir bukan membawa rahmat, melainkan membawa ancaman bagi kemanusiaan.

Kita tidak butuh pemimpin seperti yang kita gambarkan di atas. Kita butuh pemimpin yang bertanggungjawab, adil dan jujur. Sebab persepsi kepemimpinan yang kita gambarkan tadi adalah persepsi materialisme. Sementara manusia bukan hanya makhluk materi melainkan juga ruhani. Karena itu sosok kepemimpinan yang baik dan membawa rahmat bukan terletak pada idealisme materialistik yang menggebu-gebu, melainkan terletak pada kepribadiannya yang penuh tanggung jawab. Berbagai contoh kepemimpinan bermunculan dalam sejarah. Namun yang paling berhasil bukan karena kekayaan negerinya, melainkan karena kejujurannya dan tanggung jawabnya yang tinggi. Dari sini kita ambil kesimpulan bahwa masalah pemimpin adalah masalah moral, sekaligus masalah iman. Sebab semakin kuat iman seorang pemimpin pasti akan semakin baik moralnya. Bila moralnya baik, maka rakyatnya pasti sejahtera. Wallaahu a’lam bish shawab. (Dr. Amir Faisol Fath, sumber : Majalah Tatsqif edisi 37)
Read More..

Sabtu, 31 Oktober 2009

Zionis Bangun Tembok Rasis di Perbatasan Mesir


Salah satu stasiun radio resmi milik Israel memberitakan upaya dari PM. Benyamin Netanyahu yang meminta kementrian Militer, Transportasi dan Keamanan dalam Negeri untuk mewujudkan agenda pembangunan tembok pembatas di perbatasan Mesir. Alasan pembangunan itu adalah untuk menutup masuknya orang asing secara ilegal melalui perbatasan. Dalam siarannya kemudian diberitakan, langkah-langkah awal yang akan ditempuh untuk mewujudkan proyek rasis itu. Langkah pertama adalah dengan ujicoba pembangunan di beberapa lokasi khusus di perbatasan dengan jarak tembok yang pendek, yang pada tahun berikutnya akan disempurnakan hingga membentengi seluruh perbatasan.

Sumber dari radio Zionis ini kemudian memberitakan, langkah yang diambil Netanyahu didapat dari pertemuan khusus terkait pembicaraan solusi strategis untuk menutup total masuknya orang asing secara ilegal. Dalam pertemuan itu juga tengah dibicarakan, kesepakatan memberikan sanksi berat bagi warganya yang mempekerjakan dan menjamin keberadaan orang asing non legal.

Sementara itu di hari yang sama, Rabu (28/10) sebanyak 5 orang warga Palestina terluka ketika berupaya menghalangi Zionis dengan buldosernya menyapu rumah-rumah penduduk di wilayah Hebron, Selatan Tepi Barat.

Sumber dari Palestina kemudian menyebutkan, alat-alat berat militer Israel hari itu memaksa masuk ke wilayah Hebron dan mulai melakukan penghancuran dan merobohkan rumah-rumah warga Palestina. Diwaktu yang sama terjadi bentrokan yang menyebabkan terlukanya 5 orang warga, empat dari mereka adalah perempuan.

Masih dalam pemberitaan pendudukan Yahudi. Dari wilayah Selatan Hebron, dilaporkan dua kepala keluarga dipaksa hengkang dan mengosongkan rumah mereka, sebelum kemudian rumah tersebut dirobohkan dan rata dengan tanah. (sn/ism, eramuslim)
Read More..

Jumat, 30 Oktober 2009

Belajar dari Umar bin Abdul Aziz


Ikhwah fillah hafidzakumullah,
Salah satu revolusi pemerintahan paling mengagumkan adalah pada zaman Umar Bin Abdul Aziz. Bagaimana tidak, kezaliman dan kebobrokan yang berkembang selama 60 tahun bisa berubah drastis dalam waktu 2 tahun 5 bulan. Jika wajah kekhilafahan Bani Umayyah memiliki banyak bopeng dan luka, periode Umar bin Abdul Aziz merupakan masa keemasannya. Karenanya ia diabadikan dalam sejarah dengan tinta emas. Karenanya pula, ia dinobatkan sebagai khulafaur rasyidin yang kelima oleh banyak ulama' dan umat pun mengamininya.

Gerakan dakwah yang memiliki cita-cita menerapkan Islam secara kaffah, mau tidak mau harus belajar mengelola negara. Gerakan dakwah yang tengah menyongsong mihwar daulah perlu menyiapkan pemimpin-pemimpin umat yang ideal. Kemampuan mengelola negara dan kecakapan memimpin, yang kemudian membawa bukti bagi keindahan Islam, akan mendatangkan kepercayaan umat yang semakin besar. Yang terjadi selanjutnya adalah dukungan yang lebih luas, dan pengaruh dakwah pun kian kokoh.

Sebaliknya, meskipun kekuasaan dipercayakan umat kepada sebuah gerakan dakwah –pada awalnya- tetapi saat ia gagap mengemban amanat, tidak profesional dalam mengelola negara, serta tidak menunjukkan kemajuan yang lebih baik dari masa sebelumnya, kepercayaan itu akan tergerus. Bisa sedikit demi sedikit sampai waktu lima tahun dan dukungan menurun signifikan. Atau malah bisa turun seketika dan timbul mosi tidak percaya. Yang lebih parah adalah terjadinya impeachment atau kudeta.

Karenanya sejak awal kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan sebagaimana dikehendaki Islam. Pemimpin yang mampu memimpin perubahan. Pemimpin yang menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan. Pemimpin yang membawa umat kepada Islam. Pemimpin yang juga dicintai oleh umat dan senantiasa didoakan. Model pemimpin yang seperti itu ada pada diri Umar bin Abdul Aziz. Karenanya kita perlu belajar dari Umar bin Abdul Aziz.

Memiliki Visi dan Tanggungjawab Kepemimpinan

Jauh hari sebelum menjadi khalifah, saat masih menjabat sebagai gubernur di Madinah, Umar bin Abdul Aziz selalu risau dengan kondisi yang menimpa umat. Kekhalifahan Bani Umayyah yang dipimpin Al-Walid bin Abdul Malik masih diwarnai dengan kezaliman dan kerusakan.

Saat dipindah menjadi Gubernur Syam, ia lebih risau memikirkan kesalahan-kesalahan negara dan problem-problem masyarakat. Sering ia merasa sedih dan cemas, namun apa yang bisa dilakukannya sedang ia tidak memiliki kekuasaan?

Memang apa yang telah dilakukannya di Madinah dan Syams telah membawa perubahan dan keberkahan bagi masyarakat. Masyarakat mencintainya. Tapi itu baru terbatas di Madinah dan Syam. Belum mampu mengubah kekhilafahan Islam yang demikian luas. Itu hanya bisa dilakukan oleh khalifah. Umar bin Abdul Aziz memahami betul realitas di lapangan dan ia juga memiliki visi seorang khalifah. Inilah yang kemudian menjadikannya mampu berbuat banyak di hari-hari pertama pemerintahan; hari-hari pertama, bukan sekedar seratus hari pertama.

Namun demikian Umar bin Abdul Aziz tidak berambisi pada jabatan kekhilafahan. Ia bahkan sangat takut mengemban amanah itu, sejak akhir-akhir masa jabatannya sebagai gubernur di Syam. Ini juga yang membuatnya meminta tolong kepada gurunya, Raja' bin Haiwah agar menjamin namanya dicoret dari putra mahkota khalifah. Ini juga yang membuat Umar bin Abdul Aziz mengembalikan jabatan khalifah setelah mengetahui bahwa Sulaiman bin Abdul Malik justru mewasiatkan dia menggantikan jabatan khalifah pasca kematiannya. Tapi toh akhirnya ia tidak bisa menolak tatkala umat Islam memilihnya lalu membaiatnya sebagai khalifah.

Inilah hal pertama yang perlu dimiliki kader-kader dakwah yang telah menjadi pejabat publik dalam level apapun. Mereka yang duduk sebagai Bupati/Walikota, Gubernur, anggota DPR atau DPRD, apalagi Menteri. Sangat disayangkan jika ada pejabat publik dari partai dakwah tetapi tidak memahami kondisi dan realita daerah/kewenangan yang menjadi domain amanahnya, serta tidak tahu mau diapakan itu semua karena tidak adanya visi kepemimpinan. Visi ini juga perlu dipupuk dalam jiwa-jiwa kader dakwah yang diproyeksikan sebagai pemimpin, tanpa terkontaminasi virus ambisi jabatan. Memang sulit, tapi inilah salah satu rahasia keberhasilan Umar bin Abdul Aziz.

Kita perlu belajar untuk memadukan jiwa perindu (النفس التواقة) Umar bin Abdul Aziz:
إن لي نفسا تواقة لاتنال شيئا إلا تاقت إلى ماهو أفضل منه
Sesungguhnya aku mempunyai jiwa yang penuh kerinduan. Setiap kali mendapat sesuatu selalu rindu kepada yang lebih baik daripadanya.

Dan prinsip Umar bin Abdul Aziz dalam memegang hadits :
لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ ، فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا ، وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا
Janganlah sekali-kali engkau meminta jabatan. Maka jika engkau memegang jabatan itu tanpa engkau minta, engkau akan diberi pertolongan untuk melaksanakannya. Namun jika jabatan itu diberikan kepadamu karena engkau minta, maka engkau akan terbebani karenanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketegasan dan Keberanian Melakukan Reformasi Birokrasi

Apa yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz begitu dibaiat oleh umat untuk menjadi khalifah? Malam itu juga, dengan bekal visi yang telah tertanam kuat, ia mampu berbuat yang terbaik bagi umat. Ia melihat bahwa kekhalifahan tidak akan baik tanpa didukung oleh gubernur-gubernur yang baik. Sementara saat ini gubernur yang ada banyak yang menyalahgunakan kekuasaannya.

Ia pun menulis surat: kepada Maslamah bin Abdul Malik, agar kembali dengan pasukannya dari Konstantinopel. Kepada Usamah At-Tanukh ia mengabari tentang pemecatannya dari tugas mengumpulkan kharaj (pajak tanah) di Mesir dan memanggilnya untuk dimintai pertanggungjawaban. Kepada Yazid bin Abi Muslim, ia mengabari tentang pemecatannya dari Afrika dan memanggilnya untuk dimintai pertanggungjawaban.

Demikianlah, malam pertama menjadi khalifah ia telah mengambil 3 langkah besar. Langkah pertama untuk menyelamatkan militer Islam. Dua langkah terakhir untuk menghentikan kezaliman pejabat-pejabat satu level di bawahnya serta sebagai shock therapy bagi pejabat yang lain agar berbuat adil dan bekerja profesional.

Ikhwah fillah,
Visi saja tidak cukup tanpa misi yang menjabarkan cara pencapaiannya serta aksi dalam memastikan jalannya misi tahap demi tahap. Ini membutuhkan keberanian dan ketegasan! Bisa saja ikhwah menjadi menteri atau kepala daerah dan memiliki visi yang bagus tetapi ia tidak berhasil karena birokrasinya dipenuhi oleh para mafia. Umar bin Abdul Aziz menunjukkan bagaimana keberanian dan ketegasan menjawab itu semua. Kementrian meskipun dipegang kader dakwah namun jika para pejabat eselon I nya orang-orang yang korup, kementrian itu tidak bisa menjadi bebas korupsi. Gubernur atau Bupati, meskipun seorang kader dakwah tetapi jika sekda dan kepala dinas yang mengelilinginya menyalahgunakan jabatan, propinsi atau kota itu juga tidak bisa maju dan berprestasi. Karenanya reformasi birokrasi diperlukan. Untuk jangka panjang diperlukan tarbiyah bagi birokrat, kalau itu belum setidaknya dipilih orang-orang hanif dan profesional untuk berada di pos-pos strategis.

Zuhud dan Keteladanan

Hal lain yang dikerjakan Umar bin Abdul Aziz di pagi hari pertama adalah menyerahkan harta kekayaannya ke Baitul Mal. Pada mulanya istrinya keberatan, toh akhirnya ia mengikuti langkah sang suami. Jadilah kehidupan mereka tiba-tiba berubah. Dari kehidupan yang kaya raya menjadi hidup seperti rakyat jelata. Dari pakaian yang menunjukkan simbol kehormatan menjadi sangat sederhana. Dari perut kenyang menjadi sering lapar dan dahaga. Dari aroma khas parfum bangsawan menjadi tanpa wewangian.

Diantara contoh zuhud dan keteladanannya adalah pada hari-hari pertama saat ia disambut dengan seremoni penyambutan khalifah baru. Saat ia akan bertemu dengan para tokoh masyarakat, datang rombongan megah kuda-kuda yang indah dan di tengahnya ada kuda yang dirias seperti pengantin. "Apa-apaan ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah kuda-kuda yng belum pernah ditunggangi dan disiapkan bagi rombongan setiap khalifah baru." Umar berseru, "Hai Muzahim, masukkan ini ke dalam baitul maal." Saat menuju kemah, ia terheran dengan indahnya kemah yang sangat mewah, setara atau melebihi tahta Kisra. "Apa-apaan ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah kemah yang disiapkan untuk menyambut khalifah baru." Ia berseru, "Hai Muzahim, masukkan ini ke dalam baitul maal." Ia pun lebih memilih duduk di tikar biasa. Saat didatangkan surban warna warni dan kopiah mewah, ia pun bertanya, "Apa-apaan ini?" Mereka menjawab, "Ini adalah baju khilafah untuk dipakai setiap khalifah baru." Ia pun berseru, "Hai Muzahim, masukkan ini ke dalam baitul maal."

Umar bin Abdul Aziz melihat bahwa rakyat memang sedang susah akibat lama menderita. Tetapi yang dilakukannya bukan sekedar bersimpati kepada rakyat. Lebih dari itu Umar memang akan melakukan revolusi pemerintahan dan itu diawali dari revolusi ruhani dari dalam diri dan keluarganya.

Tapi justru inilah yang membuat ekspektasi umat menemukan pembuktiannya. Inilah yang membuat rakyat semakin mencintainya. Inilah hal yang membuat rakyat secara begitu segan dan hormat padanya, dan mereka pun dengan mudahnya berubah mengikuti Umar bin Abdul Aziz. Taat pada kepemimpinannya, dan bersama-sama mendukung kebijakan yang dicanangkan Umar. Masyarakat bersatu dalam perbaikan, revolusi sosial.

Sungguh benar, bahwa saat pemimpin dari kader dakwah berlaku zuhud dan sederhana di tengah bergelimangnya kemewahan seperti sekarang ini, yang timbul justru kecintaan Allah, kemudian kecintaan rakyat kepadanya.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِىِّ قَالَ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِى عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِىَ اللَّهُ وَأَحَبَّنِىَ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ازْهَدْ فِى الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِى أَيْدِى النَّاسِ يُحِبُّوكَ »
Dari Sahl bin Sa'd As-Saidy, ia berkata, “Seseorang telah mendatangi Nabi SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukakanlah kepadaku amalan yang sekiranya aku mengerjakannya, maka Allah dan manusia mencintaiku” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah kamu kepada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah kamu pada apa yang dimiliki manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

Kapabilitas Kepemimpinan

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang pemimpin yang memiliki kapabilitas kepemimpinan yang luar biasa. Sebelum menjadi khalifah, ia telah membuktikannya di Madinah, Makkah, Hijaz dan sekitarnya serta Syam. Wilayah di bawah kepemimpinannya mengalami kemajuan. Rakyat hidup lebih baik dari sebelumnya baik dalam aspek keamanan, keadilan, maupun kesejahteraan.

Setelah menjadi khalifah, kapabilitas kepemimpinan yang sebenarnya menemukan momentumnya yang tepat. Pertama kali ia mampu mempengaruhi para pemimpin di level bawahnya, baik gubernur maupun yang lain, untuk berubah. Kecintaan dan keseganan kepada Umar bin Abdul Aziz muncul dalam diri setiap bawahannya, juga umat di bawah kepemimpinannya. Sedangkan mereka yang tidak suka dengan kebijakannya yang pro umat, tidak bisa berbuat lain kecuali menaati sistem yang ada. Pelajaran yang telah diberikan khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Usamah At-Tanukh dan Yazid bin Abi Muslim membuat mereka tidak berani berbuat macam-macam.

Selain kemampuan memimpin, Umar bin Abdul Aziz juga memiliki kemampuan manajerial yang sangat baik. Dengannya ia menata birokrasi, mengatur baitul maal, dan memperbaiki pelayanan kepada umat. Ia sadar betul bahwa pemimpin umat adalah pelayan mereka (سيد القوم خادمهم).

Di samping keduanya, Umar bin Abdul Aziz juga terkenal sebagai pemimpin yang pakar dalam banyak bidang keilmuan. Karenanya kita mendapatkan banyak pujian para ulama' terhadap kepandaiannya.

Kapabilitas kepemimpinan, kemampuan manajerial, dan didukung dengan keilmuan serta kepakaran inilah yang memiliki saham penting dalam keberhasilan pemerintahannya. Dan inilah yang diperlukan bagi kader dakwah yang akan menjadi pemimpin-pemimpin publik pada mihwar daulah. Tiga hal ini bisa diasah dan dikembangkan, dan beruntunglah kader-kader dakwah yang telah memilikinya. Hanya kepada mereka kepemimpinan bisa diberikan, jika ketiga hal itu yang menjadi ukuran keahlian seorang pemimpin seperti dalam hadits Rasulullah SAW:

إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ » . قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « إِذَا أُسْنِدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ ، فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ »
"Apabila amanat itu disia-siakan, maka tunggulah datangnya Kiamat." Dikatakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah, apakah maksud menyia-nyiakan amanat itu?" Rasulullah SAW bersabda, "Apabila perkara itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya Kiamat!" (HR. Bukhari)

Pengaruh kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz juga telah mampu mengubah gaya obrolan masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat dipenuhi dengan obrolan sia-sia dan saling menanyakan: "Berapa rumahmu?" "Apakah kau telah mencoba permainan baru itu" "Berapa kekayaan yang telah kau siapkan untuk pestamu?" "Seberapa luas kebunmu?" dan sebagainya. Kini pembincaraan yang beredar di masyarakat adalah tentang agama dan akhirat. Dialog-dialog pun berubah menjadi "Saudaraku, mengapa engkau tidak kelihatan di majlis taklim kemarin malam?" "Subhaanallah, engkau telah mengkhatamkan Al-Qur'an lagi pekan ini?" "Kemarin malam engkau shalat tahajud, Saudaraku?" "Berapa juz yang telah dihafal anakmu?" dan sebagainya.

Maka perubahan yang telah diawali oleh Umar bin Abdul Aziz sejak hari pertama pengangkatannya itu pun bergerak dan membawa efek bola salju. Keluarganya berubah. Pemerintahannya berubah. Masyarakatnya berubah. Kekhilafahan berubah. Dalam waktu sekejap, hanya 2 tahun 5 bulan, wajah dunia Islam menjadi bermandikan cahaya; cahaya keemasan. Keadilan tercipta, kesejahteraan merata. Betapa hebatnya keadilan yang berkembang sehingga penggembala kambing pun merasa aman karena serigala tidak lagi memakan kambingnya selama pemerintahan Umar bin Abdul Aziz itu. Betapa hebatnya kesejahteraan ruhani dan materi sehingga di akhir-akhir pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sulit menemukan orang miskin sehingga para ulama' memeras kemampuan ijtihadnya; hendak dikemanakan zakat kaum muslimin.

Tidakkah kita ingin masa-masa seperti itu ikhwah fillah? Itulah tugas kita bersama untuk belajar dari Umar bin Abdul Aziz. Kita siapkan pemimpin-pemimpin yang meneladani Umar bin Abdul Aziz dan kepada Allah-lah kita berdoa agar mereka yang akan memenuhi kepemimpinan negeri ini pada mihwar dauli nanti. Siapkah antum? . [sumber: E-Book Taujih Pekanan Menuju Mihwar Dauli]
Read More..